Sekolah sebagai Ladang Jiwa

Ada perjalanan yang tidak diukur oleh jarak, tetapi oleh kedalaman rasa—itulah pendidikan. Ia berjalan perlahan dari hati ke hati, melintasi ruang kelas yang sunyi, dan menetap dalam jeda-jeda keheningan ketika seorang anak mengangkat tangan dengan ragu, atau ketika seorang guru menatap jendela dan bertanya dalam diam: “Apakah yang kutanam hari ini akan tumbuh kelak?”

Buku ini tumbuh dari kerinduan yang tak pernah selesai—kerinduan akan dunia belajar yang lebih manusiawi. Di tengah derasnya arus sistem dan suara-suara yang mengejar hasil, penulis memilih duduk di tepian, menajamkan pendengaran terhadap suara-suara kecil: bisikan anak-anak yang membawa pertanyaan seperti benih, langkah guru yang lelah namun tetap hadir, serta getaran harapan yang nyaris padam tapi belum benar-benar pergi.

Penulis percaya, guru adalah penjaga musim. Mereka membaca langit batin muridnya, menyirami semangat yang mulai layu, dan merawat akar karakter dengan sabar. Bukan karena mereka selalu kuat, tapi karena mereka tahu bahwa satu cahaya kecil bisa menjadi mercusuar bagi jiwa yang tersesat. Dan jika nyala itu dijaga dalam diam, disuapi oleh cinta, ia akan menjadi terang yang tak lekang waktu.

Buku ini bukan peta yang menunjukkan jalan, melainkan ladang yang mengundang untuk digarap bersama. Di antara lembarnya, tersimpan benih-benih pemikiran yang ditanam dengan harapan akan tumbuh menjadi pohon makna—berakar dari refleksi, bertunas lewat perenungan, dan berbuah dalam tindakan kecil yang mengubah.

Ini juga adalah persembahan bagi mereka yang memilih jalan yang tak disorot sorotan: guru-guru yang bertahan di pinggiran, orang tua yang mencintai tanpa pamrih, dan anak-anak yang berjalan dengan kaki kecilnya melewati semesta tantangan sambil tetap membawa mimpi. Mereka mungkin tak tercatat dalam laporan tahunan, tapi merekalah fondasi bangsa yang sesungguhnya.

Penulis ingin buku ini menjadi tempat berjumpa: antara gagasan dan hati, antara makna dan laku, antara kemanusiaan dan keberanian. Jika ada satu kalimat yang membuat Anda diam sejenak, satu paragraf yang mengajak Anda kembali mendengar suara hati, maka tugas tulisan ini telah selesai.

Karena penulis percaya, pendidikan sejati tumbuh bukan dari sistem, tapi dari kesediaan untuk peduli. Ia hidup dalam tindakan-tindakan kecil: menyapa, mendengar, mempercayai. Dan nyala itu, ketika dijaga bersama, bisa menjadi warisan paling murni bagi dunia yang sedang mencari cahaya.


Sekolah sebagai Ladang Jiwa: Menumbuhkan Nilai dalam Tanah Kehidupan Anak
Copyright © CV Elfatih Media Insani, 2025

ISBN:
Penulis: Muhammad Idrus

Editor: Kuspriyanto
Desain Sampul, Desain Isi & Penata Letak: Tim Elfatih Media Insani

Penerbit:
CV Elfatih Media Insani (Anggota IKAPI)

Terbit Pertama, Agustus 2025
xxiv, 258 hlm; 12.7 x 20 cm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *