Setiap manusia memiliki perjalanan yang meninggalkan jejak. Ada jejak yang mudah dikenang karena menghadirkan kebahagiaan, ada pula yang tersimpan dalam diam karena pernah membawa kehilangan dan kerinduan. Buku “Ketika Pena Menemukan Rumah” lahir dari keinginan saya untuk menengok kembali jejak-jejak itu, memahaminya dengan lebih= jernih, lalu menemukan makna yang masih dapat dibawa untuk menjalani kehidupan hari ini.
Perjalanan dalam buku ini bermula dari rumah pertama yang mengenalkan saya pada kasih: Ayah dan Bunda. Kehilangan mengajarkan bahwa seseorang dapat pergi, tetapi kasih yang pernah diberikannya tidak selalu ikut menghilang. Dari sanalah saya perlahan belajar tentang rindu, penerimaan, persahabatan, cinta, dan keberanian untuk berdamai dengan pengalaman yang tidak mungkin diulang.
Dalam perjalanan berikutnya, saya menemukan bahwa kata-kata dapat menjadi tempat untuk pulang. Menulis memberi ruang bagi saya untuk menyimpan pengalaman, mengurai perasaan, dan melihat kehidupan dari sudut yang berbeda. Pertemuan dengan Bengkel Narasi kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Di sana, keberanian untuk menulis tumbuh bersama orang-orang yang percaya bahwa sebuah tulisan, sesederhana apa pun, dapat menemukan pembacanya dan membawa arti.
Namun, perjalanan ini tidak berhenti pada pena dan halaman. Kehidupan membawa saya kepada ruang yang lebih nyata: pengabdian, pendidikan anak usia dini, serta anak-anak dengan kegembiraan dan impian yang perlu dijaga. Dari mereka saya semakin memahami bahwa kata-kata akan memperoleh makna yang lebih dalam ketika bertemu dengan tindakan. Ada saatnya pena bekerja melalui tulisan, dan ada saatnya kedua tangan harus ikut bekerja agar sesuatu yang baik benar-benar dapat diwujudkan.
Buku ini karena itu bukan hanya kumpulan kenangan. Di dalamnya ada perjalanan dari kehilangan menuju penerimaan, dari keraguan menuju keberanian, dari menulis untuk diri sendiri menuju keinginan untuk berbagi, serta dari impian pribadi menuju harapan agar kehidupan orang lain juga memperoleh ruang untuk bertumbuh. Saya belajar bahwa impian dapat berubah bentuk, diperbaiki, bahkan diuji berkali-kali, tetapi ia tidak harus mati selama kita masih bersedia mengambil langkah berikutnya.
Saya menyampaikan terima kasih kepada keluarga, sahabat, para pembaca, anak-anak yang menghadirkan begitu banyak pelajaran, serta orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Terima kasih juga kepada keluarga besar Bengkel Narasi dan Bang RIM, Ruslan Ismail Mage, yang ikut menyalakan keberanian saya untuk terus menulis. Setiap dukungan, perjumpaan, dan kepercayaan telah menjadi bagian dari jalan panjang yang akhirnya membawa naskah ini sampai ke tangan pembaca.
Jika buku ni kemudian menemukan tempat di hati seseorang, saya berharap bukan karena perjalanan saya dianggap istimewa, melainkan karena pembaca menemukan sebagian perjalanan dirinya sendiri di antara halaman-halamannya. Semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa kehilangan dapat melahirkan pemahaman, kenangan dapat menjadi pelajaran, dan impian selalu layak diperjuangkan. Pena saya telah menemukan rumah, tetapi perjalanannya belum selesai. Selama masih ada kehidupan yang dapat dimaknai dan kebaikan yang dapat dibagikan, saya ingin terus menulis.
Andi Satia

Ketika Pena Menemukan Rumah
Copyright © CV Elfatih Media Insani, 2026
ISBN:
Penulis: Andi Satia
Editor: Gusnawati
Desain Sampul, Desain Isi & Penata Letak: Abah Iyan
Penerbit:
CV Elfatih Media Insani (Anggota IKAPI)
Terbit Pertama, September 2026
x, 172 hlm; 12.7 x 20 cm
